Saya sangat beruntung dapat berbincang bincang dengan amang Drs. GMP. Simangunsong penulis buku “Firman dan Adat” yang secara kebetulan bertemu dalam acara partangiangan dalam rangka “mambongoti jabu” tanggal 12 Maret 2009 yang lalu oleh Saudara P. Situmorang. Dalam perbincangan singkat dengan beliau tertangkap suatu kekhawatiran yang mendalam dari beliau akan ancaman kepunahan bahasa Batak, kurang lebih sama dengan kekhawatiran saya dalam tulisanku di Facebook beberapa waktu yang lalu berjudul “Bagaimana dengan Bahasa Batak….” yang intisarinya seperti berikut:
Ada 706 bahasa daerah atau bahasa ibu di Indonesia, dan sebagian darinya sudah punah, seperti di Jawa, Bali dan Papua, dan diperkirakan akan menyusul bahasa daerah lainnya. Secara linguistis, tiap bahasa ibu harus berpenutur minimal 100.000 orang. Menurut Kompas.com dengan judul “Bahasa Ibu, siapa peduli?” mengatakan “Sungguh amat mencengangkan, Laju kepunahan bahasa Jawa dilaporkan 4,1 persen, nyaris dua kali lipat bahasa Bali, 2,1 persen.”
Nah ..bagaimana dengan Bahasa Batak? Apakah nasib yang sama akan menimpa bahasa ini? Dari kesan yang terjadi belakangan ini, penggunaan bahasa Batak di tempat asalnya terlebih di perantauan sudah mulai tergerus oleh bahasa lain.
Memang dilemma, di satu sisi bahasa non batak sangat dibutuhkan di lingkungan tapi dipihak lain bahasa Batak merupakan bagian budaya yang harus dipelihara dan dilestarikan.
Tapi apapun alasannya, pemerintah dan seluruh masyarakat Batak harus menyadari ini dari sekarang, sebab kalau tidak….. kepunahan bahasa batak itu sudah dalam hitungan yang tidak lama.
——————-
Komentar dan pendapat teman teman atas tulisan diatas:
Suhunan Situmorang:
Betul, ada fenomena yg mengkhawatirkan di bonapasogit. Menggunakan Bhs Batak seolah kampungan. Ini kesalahan diknas, salah satunya.
Nelly Br-Torus:
@ito Bachtiar….dengan sangat senang hati, dengan upaya sebisanya saya akan memuat hal ini di Project Tapanuli. PASTI!! Doakan ya ito, biar bisa sukses. Oh ya…saat ini aku lagi merancang surat Askara dengan animasi, kalau kelihatan OK, nanti aku publish, siapa tau bisa diambil maknanya.
Horas ma di hita sude, mari kita lestarikan Bahasa Batak, apalagi bagi orang-orang Batak.
Nelly Boru Torus
http://www.project-tapanuli.org
Tetty Agustina Sihombing:
Hidup Batak!!
Charlie M. Sianipar:
Sudah sangat memprihatinkan Lae. Saya menemukan itu juga di Nainggolan. Ditopi ni Tao i, ndang marhata Batak be nasida. Yang Lae risaukan itu ada saya tulis di note berikut (BAHASA BATAK TERANCAM PUNAH):
http://www.facebook.com/note.php?note_id=48882856720
Zunaerah Pangaribuan:
Sewaktu saya ke Balige 2,5 th lalu. Ku tanya sama sepupuku (SD) di sekolah dapat kaliannya belajar bahasa Batak? Dapat kak, dan belajar nya kami menulis aksara Batak dan seragam batik disana pun bermotif gorga Batak. Ini memang sesuai kurikulum. Tapi patut kita syukuri. Dimana ini dpt mengenalkan mereka kepada bahasa Batak dan aksara Batak.Tapi untuk kita perantau,kita mulailah darii keluarga inti utk tetap bahasa Batak menjadi bahasa sehari-hari. Agar anak-anak kita kenal dan akrab dgn bahasa itu. Walau mereka jawab secara pasif, minimal itu menjadi upaya kita utk tdk punahnya bahasa Batak tercinta.
Petrus Sitohang:
Saya sudah coba semampu saya menulis humor Batak seperti yang saya buat dalam serial si Horas. itu saya buat dengan niat serius…walau kualitasnya pas-pasan.
Pengamatan saya, bahasa Batak lisan masih lumayan dipergunakan. tetapi bahasa batak tulisnya yang saya kawatirkan.
Saya rasa kita bisa membantu melestarikan bahasa Batak dengan mambuat tulisan dalam bahasa Batak…apakah itu dalam bentuk cerpen atau humor.
Untuk yang mau memulai bisa merujuk ke blog www.tanobatak.wordpress.com yang dikelola Monang Naipospos langsung dari Laguboti.
Halida Srikandini Pohan:
untung anak ku dan boru ku ttp ku biasakan marhata batak molo i jabu…
berhubung aku sebagai ibu mrk pun nyaris mengingkari habatahon ku (dulu) skrg kami di rumah bikin jadwal… ada hari berbahasa indonesia… hari berbahasa batak …dan hari berbahasa inggris… walopun kadang ish masih terjadi bahasa gado2… tapi tak apalah namanya pun dalam proses belajar… learning by doing… asal ma unang jadi halak batak na lilu anak2 ku itu…
Zunaerah Pangaribuan:
Ada cerita lucu waktu saya kecil…
Omp. boru selalu memberi kami hadiah kalo bisa satu kata batak,jadi berlomba saya dgn ito utk mencari kata-kata batak,pokoknya kami tanyalah keluarga di rumah atau kalo ke rumah saudara. Dan omp menerapkan ke semua cucu2nya. Hasilnya utk berbahasa batak bisalah kami cucu2nya. Hadiahnya kecil tapi bagi anak-anak sdh senang kali, satu kata salimper(5 rupiah jaman 70-an) hadiahnya,kalo bisa satu kalimat bisa dapat kue atau buah. Saat itu terasa lucu dan sekarang menjadi kesan yg dlm bagi kami. Manurat pe marsiajar sian bapak do hami dgn berlatih menulis surat ke omp atau saudara lain.
Zunaerah Pangaribuan:
Di grub Batak dan grub Marga-marga, terlihat animo besar naposo utk belajar bahasa batak. Ini satu point plus utk pencipta fezbuk ini.
Interaksi kita disini memang hampir nyata. Dan di grup Marga itu pun disarankan pake menulis bahasa batak. Jadi, tinggal bagaimana ini bisa menjadi satu program bagi kita yg cinta akan budaya leluhur Batak ini.Agar animo mereka itu bisa ditampung dan berkelanjutan.
Ta pikkiri ma i. Asa adong menjadi sada pr(pekerjaan rumah).
Mauliate
Biarjo Silalahi:
kalau menurut saya ini adalah dilema yang sangat krusial, karena saya punya pengalaman waktu masih SD sampai SMA di samosir, kalau membaca bahasa indonesia itu masih sangat janggal apalagi intonasi penekanan kata yg begitu kasar Mis: KARENA, kelihatan bataknya, padahal kita akan bersosialisasi dgn berbagai suku nantinya dgn bahas nasional dan Inter, jadi kita takpunya pilihan, sekarang tinggal kita orang tua mau tidak mengajarkan bahasa batak itu sebagai bahasa ibu dirumah masing-masing?
horas
Rian Samosir:
ini yang ahrus dicari solusi pada dasarnya kita bs berkaca sama keturunan tionghoa dimana diantara orang tua dan anak dimana pun berada selalu meggunakan bahasa mereka, jadi menurut aku kita harus bs seperti mereka
Annette Horschmann:
Yang paling parah adalah orang tua yang suka campur bahasa indonesia dan bahasa batak didalam satu kalimat. Akhirnya anaknya pasti akan ditertawain kalau bicara seperti “gado gado”. Anakku bicara Batak khusus sama opungnya dan teman sekolah, sama bapaknya bahasa indonesia yang benar atau kadang bahasa batak juga.
Arni Sidabutar:
Ternyata, saluhut nado hape hitaon mangidohon melestarihon bahasa BATAK-i ateh, attong molo songoni tamulai ma sian diritta be, molo markomunikasi songonon, boha molo tapakke bahasattai? SETUJU BE DO HAMU, AMANG, INANG , ITO? (Bahasa batak nahusuraton pe dang asli, nunga adong bahasa sileban).
Biarjo Silalahi:
molo au sandiri lae, marprinsipdo ikkon melestarihon adat dohot hata batak i, tentu di mulai sian diri dohot di keluarga, jala molo di parkarejoan, manang didiape rapat dohot acara na resmi sai tongdo hupatudu habatakon hi, didokpetahoa au parhuta-huta…he..he…alai justru angkat topi do akka halak silebani jala las rohana mardongan dohot iba.
Aklin Manalu:
Molo dihuta nami Pakkat tongdope angka remajai marahata batak ndang pola songon nahallang. mungkin alana mansai dao dipedalaman nang pe nunga adong kenderaan masuk. Mari rap talestarihon (campur indonesia) budaya batak,bahasa batak setuju ? Horasma
Efendy Naibaho:
kami di medan sudah membentuk batakCenter, antara lain mau buat pusat studi batakologi, mudah2an nyambung dengan banyak orang.
Iskandar Siahaan:
Kalau kita sepakat bahwa bahasa Batak perlu dilestarikan dan dikembangkan, maka pertanyaan yang perlu diajukan adalah: dengan apa semua itu kita lakukan? Pada beberapa suku lain, mereka mendirikan pusat studi seperti Javanologi, Dayakologi, dan semacamnya. Selain itu ada juga yang merawat bahasa daerahnya dengan menerbitkan majalah dan memberi penghargaan tahunan. Ini dilakukan oleh saudara kita dari etnis Sunda dengan majalah Mangle dan penghargaan Rancage dengan tokohnya Ajip Rosidi. Pada kita, etnis Batak? Pak Naibaho sudah sebut akan mendirikan Batak Center, semacam pusat studi Batak. Pak Sitohang mencoba menulis cerita-cerita humor dalam bahasa Batak. Melihat tanda-tanda ini mestinya kita sedikit gembira, ternyata ada kepedulian pada sebagian dari kita orang Batak untuk merawat bahasa Batak. Semoga saja upaya ini menular ke banyak orang dan menjadi semacam gerakan budaya dengan bermacam lagi cara dan tindakan.


Patandahon diri ma jo au ate amang dohot inang. Goarhu Intan Rosaria br.Nainggolan, oma boru Sitanggang. Molo mamereng panghataionmuna na diginjangi, mansai las ma rohakku mamereng semangat i hamuna. Iba pe sabotulna dang pola boi marhata Batak na denggan, ala nunga tubu dohot balga i Jakarta do. Alai memang sian dakdanak, nunga i tanamhon tu hami akka ianakkonna asa boi dohot bangga marbahasa Batak. Dungi muse, molo lao tu gereja pe, ikkon tu gereja na marbahasa Batak do hami i tugihon halaki (natorashu). Iba pe sederhana do marpikkir, molo dang sian generasi muda, tu ise na ma annon habatakoni ro? (Molo godang hata Batakku na salah, maklum ma hamuna ate amang dohot inang). Menanggapi hata ni bang Suhunan, ai toho do i bang. Godang donganku na halak kita alai bangga hian do halaki dang boi marbahasa Batak. Mungkin, inna rohani halaki, molo marbahasa Batak au ittor hira kampungan ma iba disi (menyedihkan sabotulna molo mamereng na sisongoni ate amang dohot inang. Alai, tetap optimis do iba disi, alani aha ningon? Molo dibereng halaki akka halak na tubu i Jakarta pe bangga marbahasa Batak, boasa ikkon maila iba marbahasa Batak (inna rohani halaki…hehehe). Papudihon, mauliate godang i brainstorming ta ate amang dohot inang (maaf molo marsampur2 ate..hehehe). Akhir kata, “Hdup Budaya Batak!!”
05.11.09 at 9:48 am
Mauliate ma di ibotonami br Nainggolan ala disangahon itokku mamereng jala mambaen pandapot.
06.08.09 at 4:50 am
Horas ma..
mansai godang do hita halak batak, sai marpangidoan “sai unang ma mago hata batak i” sai inna hita do.
alai…. tung jotjot do hita sai marhata na asing di tingki pajumpang dohot sarupa halak hita. pintor naek do “gengsi”-na haroa molo sai marhata indonesia.
alai dang taroraan hita, ala di tingki manghatai “Hata Batak dan kekhawatiran kepunahannya” pe, nungga marhata indonesia akka na deba..
tung godang na masa akka si songon i manang didia pe..
ai sipata hansit do simanjujung niba, molo nisukkun akka dongan na jumpang di luat nadao on.. “ai boasa dang diantusi ho aha na hupandok lae/ito??”..
aha dialusi?? “udah lahir disini gua”, “ga pernah pake sih, bokap/nyokap jg udah pake bhs indonesia tuh”, “kagak nyang ngajarin aye nihhhh” ninna na deba, ngilngil..
ee. tahee..
hea do dibege hamu didok sada halak batak mangalusi sukkun2 si songoni alai dialusi “ga penting kale itu!”
06.11.09 at 7:53 am
Sude hata batak i bodi do di lestarihon alai sude tergantung tu angka orang tuana be.. molo anak dohot boruna jotjot mambege hata batak sian orang tuana … lam leleng pasti ma lancar…
08.17.09 at 12:47 am
punah nya bahasa itu sesuai dengan perkembangan jaman yang selalu ada perubahan itu logis, sama halnya dengan marga batak juga banyak yang punah. bahkan tidak ada pernah dijumpai lagi . itu tidak bisa di ingkari karena itu merupakan sebuah fenomena. yang memang harus terjadi. kalau memang bahasa batak harus punah. itu masuk akal. kita sebagai orang – orang batak bagaimana cara nya agar bahasa batak itu tidak punah. salah satunya dengan mengajari anak2x yang tidak tinggal di sumatera utara. berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa batak. melestarikan budaya. / membuat event yang beruhungan dengan batak
11.23.09 at 4:30 am
Saya peneliti bahasa, saat ini saya sedang mencari rekaman percakapan dalam bahasa Batak Toba. Karena saya tidak tinggal di tanah Batak dan jauh dari komunitas masyarakat Batak Toba saya hanya bisa menulusuri pencarian saya melaui internet. Saya sudah berusaha mencari di YouTube, tetapi video yang berkaitan dengan Batak semua berisikan lagu/musik. Saya memerlukan rekaman percakapan atau monolog (pidato/dongeng) dalam Bahasa Batak Toba yang bersih. Bila anda mempunyai rekaman/informasi mengenai rekaman yang dapat saya akses melalui internet sila menghubungi saya melalui alamat email: Lilieroosman@yahoo.co.uk. Atas kerjasama dan bantuan anda, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.
Horas! Lilie
12.03.09 at 4:21 pm
Bahasa menunjukkan bangsa. Lama sebelum bangsa Indonesia ada, bangsa Batak sudah ada. Malah hingga saat ini para tua-tua orang Batak masih sering mengatak “hita bangso Batak”. Kepunahan bahasa Batak kemungkinan diakselerasi dengan ketidakadilan sebuah pemerintahan. Ada salah satu suku yang secara tidak langsung menjajah bangsa Indonesia melalui bahasa, sebab panggilan atau kata yang sudah ada bahasa Indonesianya mereka usahakan menggantinya dalam kata bahasa mereka. Bohong besar kalau disebut memperkuat bahasa Nasional.
01.24.10 at 11:55 am
horas ma di hita sude!songon na nidok ni ampara ku si ahmad subuhan lubis i, anggo hata batak boi do muse mago sian hasiangan on alani hamajuon, holan napalelenghon do hita alana hita naung tubu di tano parserahan dang boi be hita songon najoloi ganup ari/ tingki begeonta hata batak, alai songon huria HKBP na mambahen parmingguon marhata batak boi sada parsiajaran tu angka na umposo, jala di hita angka natua-tua pe antong talehon ma panorangion tu angka ianakkonta asa unang maila nasida nagabe halak batak.
Asing sian hata batak ai adong dope surat batak naung sohea be tarida jala diantusi naposo nuaeng. Boha hita, pasombuonta do i? Au boi dope manjaha dohot manurat surat batak sasaotik, hape so hea be huajarhon i tu anakkonku.(heh heh he he hee)
Sonari, ise do hita na mangkarikkonton i?
Horas ma di hita sude. lubispintor@yahoo.ccom
04.05.10 at 4:35 am
pasombu lungun ni roha go to http://www.gobatak.com
05.10.10 at 9:57 am
sesuai dengan pernyataan sdr.Lilie Roosman saya senang . untuk melakukan penelitan ttg bahasa batak toba. mungkin sdr. harus pergi ke komunitas batak. bagaimana mana mungkin sdr. bisa melakukan penelitian tanpa melibatkan komunitas. kalau hanya sekedar omongan dan ucapan dalam bentuk rekaman bagaimana sdr. bisa mengambil kesimpulan.
horas..
05.10.10 at 10:09 am