Panggillah dia Tuhan….

No Comments » Written on February 16th, 2009 by admin
Categories: Sosial

Kalahiran, kehidupan dan kematian …itulah siklus kehidupan.

Ketika kelahiran datang,  kecerian dan kegembiraan yang tak terhingga akan mencuat bagi keluarga dan sanak saudara  yang memperoleh karunia tersebut, tapi lain halnya ketika kematian itu datang, pasti  kesedihan yang mendalam tidak akan pernah terelakkan.

Demikianlah ketika pencipta memanggil Saudara kami yang terkasih bermarga Situmorang pada beberapa waktu lalu, tidak terlukiskan kesedihan yang  ada ketika itu.

Sebagaimana lazim dalam kehidupan sosial orang Batak; pada hari Sabtu yang lalu kami yang mengasihi dan mencintai keluarga ini datang  untuk “mangapuli” (melakukan penghiburan) kepada keluarga yang berduka ini.

Acarapun dimulai dengan didahului dengan “hata Huhuasi” (kata pengantar) dari salah satu yang hadir, lalu kemudian dilanjutkan dengan “Marsipanganon” (makan bersama dan biasanya makanan dibawa yang melakukan penghiburan).

Sehabis marsipanganon, acara sesungguhnyapun dilaksanakan diawali dengan “ende” (lagu pujian). Biasanya sebelum hadirin menyampaikan kata-kata penghiburan, terlebih dahulu dimohon  kepada keluarga yang berduka untuk menyampaikan sedikit banyak tentang proses meninggalnya almarhum sampai pelaksanaan pemakaman.

Lalu kemudian diaturlah urut-urutan untuk menyampaian kata kata penghiburan, dan biasanya yang pertama menyampaikannya adalah boru/bere dan dilanjutkan sesuai dengan tingkatan dalam adat Batak yaitu dimulai dari tingkatan anak sampai tingkatan Bapa.

Namanya kata penghiburan tentunya hadirin selalu memilih kata kata berbetuk nasehat dan dorongan semangat kepada keluarga untuk tidak larut dalam duka yang berkepajangan, agar keluarga dapat menerima bahwa kematian adalah suatu proses yang alamiah, walau didalamnya tidak terlepas dari rasa kesedihan yang sulit dikendalikan. Itu pasti karena manusia yang kehilangan sesuatu benda sekalipun akan merasa sedih, apalagi kehilangan orang yang terdekat yang paling dicintai.

Di penghujung acara, dan sebagaimana sutau kelaziman dalam orang Batak, pihak keluarga yang berduka biasanya menyampaikan “hata Pangampuon” (ucapan terima kasih) yang urutan penyampaiannya kurang lebih sama dengan urutan diatas dan diahiri oleh yang paling dekat dengan almarhum (dalam hal ini adalah Inanta yang ditinggal almarhum).

Menurut penuturannya yang jujur dan ketenangan yang luar biasa walaupun masih diiringi dengan isak tangis, beliau menceritakan sejujurnya bahwa keluarga telah berjuang secara maksimal untuk berusaha mendapat kesembuhan atas penyakit almarhum; dari dokter yang satu dengan dokter lainnya, opname di beberapa rumah sakit, dan paling terakhir dengan membawanya ke salah satu rumah sakit di Penang, namun  kesembuhan itu tidak kunjung tiba.  Dalam kondisi demikian,  almarhum sempat berputus asa sampai sampai sudah mulai berontak kepada Tuhan, sementara almarhum adalah salah seorang “Sintua (Pangitua)” di HKBP.  Pada saat yang sulit inilah istri almarhum berdoa dan berpasrah diri dan didalam doanya dia memohon  :  “Tuhan jangan biarkan suami saya berbuat dosa di akhir hidupnya, maka itu saya mohon panggillah suami saya ini untuk duduk disampingmu”. Dan Tuhan mendengarkan itu, sebab tak lama kemudian almarhum meminta istri dan keluarga mendoakannya, lalu menghembuskan nafas terakhir.

Seketika, sebagai manusia biasa tentu terperanjat mendengar pengakuan yang sungguh luar biasa ini, tetapi setelah berfikir panjang dan memahami persoalannya dapat disimpulkan bahwa doa ini sangat bijak dan suatu kepasrahan yang luar biasa sehingga almarhum terselamatkan  dari perbuatan dosa.

Ini menjadi sangat berarti dan menjadi pembelajaran penting untuk memahami  hidup dan kuasa sang khalik.

Tags: , ,

Leave a Reply